For My Country, Alangkah Lucunya Negeri Ini

satu lagi film menarik yang dirilis tahun 2010 berjudul “Alangkah (Lucunya Negeri Ini)”. Film ini mengangkat cerita tentang permasalahan Indonesia, seperti anak jalanan yang lepas sekolah alih-alih berprofesi menjadi tukang copet, sarjana pengangguran yang bingung cari kerjaan, serta kondisi kekinian bangsa ini.

Kisah ini dimulai dengan seorang lelaki yang berjalan menyusuri Jakarta, Muluk (Reza Rehadian). Muluk tinggal bersama sang ayah, Haji Makbul (Dedy Mizwar). Muluk sendiri adalah sarjana manajemen yang sudah 2 tahun lulus dan masih menganggur, kesana kemari dia telurusi jalanan Jakarta untuk mencari kerja. Muluk sangat ingin berkerja, selain untuk menghidupi dirinya, dia ingin membuat ayahnya bahagia dan ingin melamar anak Haji Sarbini (Jaja Mihardja).

Suatu hari ketika Muluk berjalan melewati keramaian pasar, Muluk tanpa sengaja memergoki anak jalanan yang sedang mencopet, lalu Muluk mengikutinya diam-diam. Kemudian Muluk berkenalan dengan pencopet cilik tersebut, namanya Komet (Angga). Dari perkenalan dengan Komet, Muluk akhrinya tahu pencopet cilik tidak hanya 1, melainkan banyak dan mempunyai markas yang tersembunyi. selain memiliki markas, mereka diorganisasi oleh Jarot (Tio Pakusadewo), bos anak jalanan tersebut.

Melihat kehidupan yang ironi anak jalanan itu, Muluk mendapatkan ide agar dia tidak menganggur lagi. Muluk menawarkan kepada Jarot untuk mengelola uang hasil copet untuk ditabung agar anak jalanan berhenti mencopet  dan bisa mencari uang yang halal.

Namun ditengah-tengah pekerjaannya, hati Muluk tersentuh melihat anak-anak jalanan itu. Mereka tidak pernah merasakan pendidikan, tidak pernah mendapat kasih sayang orangtua dan  pengetahuan agama. Akhirnya Muluk meminta 2 temannya yaitu, Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Tika Bravani) untuk bersama-sama mendidik para anak-anak jalanan dan mengubah pola pikirnya agar tak lagi jadi pencopet.

Bagaimana kisah selanjutnya Muluk dan kawan-kawan untuk mengubah nasib para pencopet cilik? Yang pasti menarik dan lucu. Dengan ciri khas Dedy Mizwar membawakan sebuah tema yang lagi-lagi tentang negeri kita namun masih bersifat humoris dan santai. Para konsumen film dibawa ke sudut pandang rakyat jelata yang bernasib mungkin tidak seberuntung kita. Menguak sisi negatif anak jalanan yang berprofesi mencopet dan membandingkannya dengan para pencopet kelas kakap (koruptor). Banyak adegan-adegan seru saat pencopet cilik beraksi, gerakan-gerakan mereka lincah saat menembus pertahanan kantong/tas para korban. Selain itu berulang kali Dedy Mizwar menekankan ke dalam film tersebut yaitu “pendidikan itu penting”, walaupun dunia sekarang kejam namun tetap prioritaskan pendidikan, karena dengan pendidikan kehidupan akan lebih terarah.

Namun film ini juga menimbulkan pertanyaan kepada para konsumen film, yaitu apakah gaji perkerjaan Muluk itu halal atau haram? Sedangkan tujuan Muluk itu sebenarnya baik. Dan jika tidak dilaksanakan, tidak akan merubah moral anak jalanan tersebut. Mungkin hanya Allah SWT yang tahu tentang persoalan itu.

Ada juga adegan satpol PP yang mengejar pedagang asongan karena baginya mereka hanyalah pengganggu jalan raya. Lalu Muluk membantah yang seharusnya mereka tangkap adalah para pemimpin yang berkuasa disana yang meresahkan rakyat-rakyat jelata dan pada akhirnya mereka menjadi pedagang asongan atau pencopet.

Perlu diketahui pemeran anak-anak jalanan itu ternyata asli anak jalanan yang diambil khusus dari yayasan anak jalanan. Namun, mereka berperan sangat apik dan menawan. Banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang dapat dipetik dari film ini. Pokoknya recommend abis deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s