Candi Pari: Eksistensi Porong di Mata Sejarah (part I)

Tiga tahun terakhir Porong adalah sebuah kecamatan yang cukup terkenal di Indonesia. Porong dikenal karena bencana Lumpur Panas Lapindo yang menyembur pada tanggal 27 Mei 2006 hingga sekarang. Dengan 12 desa yang telah tenggelam akibat luapan Lumpur Panas Lapindo, Porong menjadi sebuah area yang diteliti banyak pihak, baik akademis maupun non akademis dari berbagai bidang.
Salah satu bidang yang layak diteliti adalah Sejarah Porong. Banyak hal yang dapat digali dari kecamatan ini. Bukan hanya faktor alam, mengingat fenomena semburan lumpur panas membuat banyak ahli geologi sibuk, sedangkan banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Porong mempunyai peran cukup penting di masa Indonesia Kuno.
Sebenarnya, kajian ilmu geologi juga berkaitan dengan ilmu sejarah di kasus Lumpur Panas Lapindo. Seperti yang diteliti oleh Awang Harun Satyana, seorang ilmuwan geologi. Beliau menduga kemunduran Majapahit bukan hanya dipengaruhi oleh faktor politis, seperti perebutan kekuasaan, tidak adanya pemimpin secakap Hayam Wuruk, atau masuknya Islam sebagai sumber utama lahirnya Kasultanan. Namun deformasi Delta Brantas, yaitu rentetan erupsi gunung lumpur Jombang-Mojokerto-Bangsal sepanjang 25 km. Pergeseran tersebut disebut dalam kitab Pararaton sebagai bencana dengan istilah Pagunung Anyar atau Gunung Baru. Beberapa lokasi ditemukan mengadopsi nama tersebut menjadi nama sebuah desa atau daerah. Dan ditemukan sebuah kawasan dekat Surabaya yang dinamakan Gunung Anyar. Diduga kawasan tersebut dahulu adalah bekas mud volcano yang mengganggu bahkan menyebabkan Kerajaan Majapahit runtuh. Gunung Anyar berjarak 25 km di arah barat dari luapan lumpur panas. Sehingga dapat ditarik garis lurus yang menghubungkan Gunung Anyar dengan pusat semburan lumpur panas di Sidoarjo.
Namun tidak hanya fenomena lumpur panas dan hubungannya dengan gunung lumpur yang menyebabkan Porong cukup bersejarah. Namun ada beberapa situs sejarah yang kini nyaris terlupakan, yang justru lebih berpotensi menceritakan sejarah Porong di masa lalu.
Porong yang terletak sekitar 14 kilometer di sebelah selatan pusat kota Sidoarjo, berbatasan dengan Kecamatan Krembung di sebelah barat, Kabupaten Pasuruan di selatan, Kecamatan Tanggulangin dan Candi di utara, dan Selat Madura di timur. Porong merupakan bagian dari daerah delta Sidoarjo. Dengan dilalui anak sungai Brantas, yaitu kali Porong, menyebabkan daerah tersebut subur. Terdapat 13 desa dan 6 kelurahan di kecamatan ini.
Salah satu desa tersebut adalah Desa Candi Pari. Sesuai namanya, desa tersebut memiliki dua situs sejarah, yaitu Candi Pari dan Candi Sumur. Situs tersebut terletak 2 km barat daya laut dari lokasi semburan lumpur panas. Dengan adanya candi, menunjukkan bahwa Porong tidak hanya memiliki lumpur panas yang sangat fenomenal, tetapi juga mempunyai sebuah bukti peninggalan suatu kerajaan di Indonesia.

Pembahasan

Candi Pari terletak di dusun candi pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Berdiri di atas tanah seluas 1.31m m2 pada ketinggian ±4,42 m dari permukaan laut. Lokasi Candi Pari dikelilingi langsung oleh pemukiman penduduk.

Penelitian dan publikasi sejarah tentang Candi Pari baik berupa tulisan maupun foto sudah lama diterbitkan oleh sarjana-sarjana Belanda :
1. Hageman di dalam TBG tahun 1854
2. P.J. Veth, Java tahun 1878
3. JLA. Brandes. ROC tahun 1903
4. J. Knebel. ROC tahun 1905/1906
5. FDK Bosh. ROD tahun 1915
6. Verbek mengadakan inventaris tahun 1889-1891
7. NJ Krom dalam buku Inlejding Tot De Hindoe – Java asch Kunst 1923
NJ Krom berpendapat, bahwa gaya arsitektur Candi Pari mendapat pengaruh dari Champa khususnya dengan candi-candi di Mison (kompleks candi yang dibangun oleh kerajaan Champa untuk pemujaan kepada Siwa).

Keterangan: Kesamaan corak arsitektur Candi Pari dan Candi Mison

Arsitektur Bangunan
Candi Pari dibangun menghadap ke barat dengan ukuran 13,55 m, lebar 13,40 m dan tinggi 13,80 m. terbuat dari bata, sedangkan ambang atas dan bawah pintu masuk bilik candi menggunakan batu andesit. Secara arsitektural Candi Pari mepunyai perbedaan dengan candi-candi lainnya di Jawa Timur. Perbedaan ini nampak pada bentuk fisik Candi Pari yang agak tambum dan tampak kokoh seperti Candi-candi di Jawa Tengah. Sedangkan Candi di Jawa Timur berbentuk ramping.
Selain itu perbedaan nampak pada bentuk kaki, badan candi serta ornamennya.

1. Kaki Candi
Kaki Candi Pari bertingkat dua, yaitu kaki candi atas dan kaki candi bawah dengan istilah batur.
a. Kaki Candi II (batur) berdenah empat bujur sangkar dengan ukuran 13,55 m, lebar 13,40 m dengan tinggi 1,50 m terdapat dua jalan masuk ke bilik candi. Kedua jalan terrsebut merupakan trap/susunan anak tangga dengan arah utara selatan dan selatan utara, jalan masuk seperti itu tidak kita temui pada candi-candi di Jawa Timur. Susunan bata pada kedua anak tangga masuk masih asli. Tetapi kondisinya sudah aus dan pipi tangga dalam keadaan rusak. Pada bidang atasnya terdapat silasar selebar 1,70 m.
b. Kaki I. berrdenah bujur sangkar dengan ukuran panjang 10 m, lebar 10 m dan tinggi 1,95 m. Pada salah satu sisi terdapat tangga naik menuju ke bilik candi, tangga naik terseebut merupakan susunan baru dengan menggunakan bata lama. Pada bagian dinding candi telah mengalami konsolidasi pada zaman kolonial Belanda.

2. Badan Candi
Badan berbentuk bujur sangkar berukuran panjang 7,80 m, lebar 7,80 m, tinggi 6,30 m, pintu masuk berbentuk segi empat ukuran panjang 2,90 m, lebar 1,23 m, dan tebar 1 m dengan buah doorple salah satunya terrbuat dari batu andesit dengan pahat angka tahun 1293 saka (1371 M) dan hiasan berbentuk segitiga.
Ambang atas pintu masuk ini pernah mengalami konsolidasi pada zaman kolonial Belanda, yaitu diberi enam buah kayu balok jati. Tetapi setelah dipugar pada tahun 1994 s/d 1999 diganti dengan batu andesit sebanyak 7 buah. Profil batu candi yang masih tampak jelas yaitu profil badan pada bagian atas, berupa sebuah bentuk sisi genta dengan lilis polos. Sedang di tengah dinding badan lainnya terdapat pahatan berupa miniature candi dengan hiasan bunga teratai dan rangka. Di kanan kiri pahatan miniature candi mempunyai lubang angin sebanyak 6 buah.

3. Bilik Candi
Sebagian lantai bilik candi merupakan tatanan baru dengan menggunakan batu lama. Susunan lantai asli masih tampak di sudut barat daya dan sudut barat laut bilik candi. Di dalam bilik candi saat ini sudah tidak arcanya lagi, akan tetapi di bagian tengah dinding timur (antara lubang angin) terdapat sebuah tonjolan sebagai sandaran arca, ukuran bilik candi 6×6 m.

4. Atap Candi
Atap candi sebagian besar telah runtuh, dengan ukuran panjang 7,80 m, lebar 7,80 m, tinggi 4,05 m. hiasan yang masih tampak pada dinding atap berupa hiasan menara-menara pajal sudah tidak lengkap lagi. Antefik yang terlihat samar-samar serta hiasan bintang bertangga panjang keadaan udah aus.
Ornamen :
Candi Pari tidak memiliki ornamen. Pada kaki candi I (batur) terdapat hiasan berrbentuk semacam panel yang polos tanpa hiasan. Sedangkan pada kaki II di tengah-tengah sisi terdapat pahatan berbentuk seperti alas arca atau candi alas arca atau candi tanpa atap. Pada tubuh candi terdapat pahatan semacam panel-panel besar polos tanpa hiasan. Di dinding barat tepat di atas pintu masuk terdapat hiasan segitiga sama sisi, bagian kecilnya berada di atas. Pada bagian dinding utara, timur dan selatan terdapat hiasan miniatur yang atapnya bertingkat lima dengan puncaknya ada hiasan angka Candi Pari yang kita lihat saat ini hasil pemugaran tahun 1994/1999 oleh Kanwil Depdikbud dan suaka peninggalan sejarah dan purbakala Jawa Timur melalui dana proyek pelestarian/pemanfaatan peninggalan sejarah dan purbakala Jawa Timur.

Keterangan: Candi Kidal dan Candi dan Candi Singasari

Menurut artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Hariani Santiko (Guru besar Arkeologi UI) di website jagadkejawe.com,
“Berdasarkan ciri-ciri arsitektural dan struktural, candi-candi Majapahit ini paling sedikit memiliki dua gaya, yaitu candi-candi dengan gaya Singasari atau gaya Kidal. Candi-candi ini memiliki 3 bagian candi, beratap tinggi, dan tidak memiliki selasar untuk melakukan pradaksina (mengitari candi dengan mengikuti arah jarum jam). Namun para seniman agama (silpin) masa Majapahit telah mengembangkan daya kreasinya sehingga menghasilkan ciri-ciri yang khas masa Majapahit, yaitu munculnya sepasang tangga di kiri kanan tangga pintu masuk yang kemudian bertemu membentuk tangga tunggal masuk ke dalam candi. Salah satu contoh adalah tangga pada candi Pari.”

Adapun ciri-ciri Campa pada hubungan Candi Pari justru menunjukkan tingginya toleransi di bidang kebudayaan waktu itu. Untuk mendukung pendapatnya NJ Krom menyebutkan adanya hubungan antara Indonesia dan Campa suatu daerah di Vietnam saat ini. Sumber tertulis menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Indonesia dan Campa sudah terjalin sejak zaman pra sejarah, hal ini berdasarkan temuan nekara-nekara perunggu gaya Dong Son di Pulau Jawa. Pada masa klasik hubungan dagang makin meningkat lagi. Sumber prasasti dari periode Jawa Tengah, sedangkan sumber tertulis dari jaman Islam menyebutkan pengungsian orang-orang Islam campa ke Jawa Timur abad XV masehi, terdapat dalam hikayat Hasanudin (Jan Endel 1983) dan kitab sejarah Melayu (Situmorang dan Tecuw 1952) peristiwa tersebut terjadi setelah jatuhnya pemerintahan Raja Pan Kubah akibat serangan Raj koci. Yaitu pengungsian orang-orang Campa ke Jawa karena stabilitas di Negeri Campa tidak aman. Dalam hubungannya dengan Candi Pari, pengungsian orang-orang Campa ke Jawa pada tahun 1318 M oleh penguasa Majapahit diterima dengan tangan terbuka. Konsekuensi logisnya disediakan tempat untuk Raja Campa dan pengikutnya dan asimilasi tersebut tampak pada bangunan Candi Pari, yaitu bangunan suci berkarakter Jawa yang dipengaruhi kesenian Campa.
Selain berakulturasi dengan kebudayaan Campa, menurut Trimulyono alias Eyang Bete (Ketua Tim Forum Komunikasi Budayawan Sidoarjo), tampak pengaruh tekhnologi Tiongkok mengintervensi pendirian Candi Pari. Karena bangunan terbuat dari batu bata. Diduga karena letak geografis Candi, yaitu Delta Sungai Brantas, atau diapit oleh Sungai Mas dan Sungai Porong. Kedua Sungai ini memiliki tipe geologi tanah sedimen yang kaya endapan lumpur (clay) . Tekhnik pembuatan batu bata pun menyerupai dengan pembuatan gerabah atau tembikar, ini secara tidak langsung menunjukkan adanya pengaruh dari Tiongkok.
Seperti yang dikutip dari website resmi Kabupaten Sidoarjo,

“Bagaimana penjelasannya? jangan lupa, wilayah kerajaan Majapahit begitu luas hingga kewilayah Indocina selain itu, hubungan dagang antara Majapahit dengan negeri Tiongkok sudah terjalin sejak surutnya Kediri – Daha (jaman Jayakatwang, 1271 – 1294) yang dirintis Raden Wijaya dengan tentara Karta.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan wilayah kekuasaan Majapahit yang begitu luas, daerah delta Brantas, khususnya Porong merupakan daerah yang cukup maju. Dilatarbelakangi oleh faktor geografis yang dekat sekali dengan muara laut utara Jawa, berupa dataran rendah, mengakibatkan jenis masyarakatnya cenderung pada masyarakat multikultural. Transportasi laut dan darat yang cukup lancar dapat menjadi salah satu faktor mengapa komunitas Tiongkok dan Champa
tinggal disana.
Kemudian dikutip dari artikel yang sama, dijelaskan bahwa adanya ventilasi uadara dan bentuk hubungan yang mengerucut pada bangunan Candi Pari yang menyerupai bentuk lumbung padi menjadi bahan penelitian tersendiri bagi tim FKB Sidoarjo. Karena diyakini fungsi Candi Pari tidak hanya sebagai penghormatan terhadap seseorang tetapi juga dimanfaatkan sebagai lumbung padi.

One thought on “Candi Pari: Eksistensi Porong di Mata Sejarah (part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s