Candi Pari: Eksistensi Porong di Mata Sejarah (part II)

Legenda Candi Pari:

          Setiap situs sejarah memiliki suatu kisah dibalik pembuatannya. Kisah itu dapat berupa legenda, mitologi, atau cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh penduduk sekitar situs tersebut. Meskipun tidak dapat diandalkan sebagai informasi yang relevan untuk Ilmu Sejarah, namun latar belakang cerita rakyat sangat penting berhubungan dengan waktu atau masa pembuatan situs dan siapa saja yang ikut berperan dalam pendiriannya.

Berikut adalah kisah tentang asal mula Candi Pari berserta Candi Sumur, yaitu candi yang terletak sekitar 50 meter dan masih berada dalam satu desa. Cerita tentang asal mula Candi Sumur juga tak dapat dipisahkan karena merupakan bagian dari Legenda Candi Pari. Cerita rakyat ini berasal langsung dari data yang dimiliki juru kunci Candi Pari, yaitu Bapak Moh. Saroni.

Sejarah Candi Pari dan Candi Sumur

Pada jaman dahulu kala seorang tua bernama Kyai Gede Penanggungan yang hidup di pengunungan. Ia mempunyai adik perempuan janda bertempat tinggal di desa Ijingan. Kyai Gede Penanggungan mempunyai dua orang anak perempuan. Yang sulung bernama Nyai Loro Walang Sangit dan yang bungsu bernama Nyai Loro Walang Angin, keduanya berdiam di rumah Kyai Gede Penanggungan. Sedangkan adiknya Janda Ijingan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Jaka Walang Tinunu. Setelah dewasa ia amat tampan dan hormat kepada ibunya.

Pada suatu hari ia menanyakan pada ibunya siapakah ayahnya, tetapi ibunya tidak mau menjawab dan hanya berkata, “Kamu tidak punya ayah tetapi Kyai Gede Penanggungan adalah kakak saya. Kemudian Jaka Walang Tinunu minta ijin pada ibunya untuk membuka hutan untuk tempat tinggal dan penggarapan sawah. Perrmintaannya dikabulkan oleh ibunya. Maka berangkatlah Jaka Walang Tinunu disertai oleh dua orang temannya yaitu Satim dan Sabalong untuk menuju ke Dukuh Kedungkras (Desa Kesambi sekarang). Setelah menetap disana tanpa suatu rintangan apapun, mereka mulai membabat rimba di Kedung Soko arah utara Kedungkras dan arah selatan Desa Candipari.

Beberapa waktu kemudian pada suatu malam, teman-teman Jaka Walang Tinunu memasang wuwu (semacam perangkap ikan) di kali Kedung Soko. Esok harinya wuwu diambil dan ternyata berhasil menangkap seekor ikan Kotok. Ajaibnya ikan tersebut bisa berbicara dan menerangkan bahwa sebenarnya ia bukanlah seekor ikan, tetapi seorang manusia. Bahwa dulu ia bernama Sapu Angin yang mengabdi pada pertapa dari Gunung Pamucangan dan ia berdosa kepada pertapa itu karena pernah mempunyai keinginan menjadi raja. Dan ia diperrkenankan menjadi raja ikan, dengan demikian berubahlah ia menjadi Deleg sampai detik ia masuk ke wuwu. Waktu mendengar riwayat Deleg itu maka terrharulah Jaka Walang Tinunu dan berkata, “Barang siapa berasal dari manusia kembalilah menjadi manusia.” Dan seketika itu ikan deleg berubah menjadi manusia yang hampir setampan dengan Jaka Walang Tinunu. Lalu diberi nama: Jaka Pandelegan dan dianggap sebagai adik dari Jaka Walang Tinunu.

Demikianlah lalu mereka bersama-sama membuka tanah dan setiap hari mengolah tanah untuk lahan pertanian. Kemudian Jaka Walang Tinunu memikirkan soal bibit, tetapi menemui jalan buntu, sebab ia sangat miskin tidak punya apa-apa untuk membeli keperluan menggarap sawah. Tapi tiba-tiba ia ingat apa yang dikatakan ibunya dulu, tentang Kyai Gede Penanggungan. Maka permohonannya tentang bibit padi disampaikan kepada Nyi Gede yang selanjutnya disampaikan pada kakaknya. Namun Kyai Gede tak percaya bahwa bibit itu akan dipergunakan untuk bersawah.

Sebaliknya kedua putrinya waktu kedatangan Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan asrama di dada mulai tumbuh melihat kesopanan dan ketampanan kedua pemuda itu. Baru pertama kali kedua gadis tersebut melihat pemuda yang begitu sopan dan tampan.

Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan sangat kecewa karena permohonanya tidak dikabulkan. Hanya diberi medang yang apabila disebarkan tidak akan tumbuh. Lalu kedua putrinya disuruh untuk mengambilkan Medang tersebut. Karena kedua putrinya menaruh hati maka kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mencampur bibit padi dengan medang yang akan diberikan itu.

Setelah menerima medang satu karung mereka mohon diri. Kedua putrinya sudah terlanjur mencintainya maka keduanya minta ijin kepada orang tuanya untuk ikut kedua pemuda itu, tetapi tidak diperkenankan. Akhirnya kedua putri itu hanya memesan kepada kedua pemuda itu agar saat menanam padi untuk memberitahukan kepada Kyai Gede.

Setibanya di rumah secepatnya Medang tersebut disebarkan di sawah dengan mendapatkan ejekan dari Sabalong dan Satim karena yang disebarkan itu tidak mungkin tumbuh. Namun demikian Jaka Pandelegan dan Jaka Walang Tinunu percaya apa yang diucapkan oleh Kyai Gede Penanggungan tersebut.

Ternyata tumbuhnya sangat baik benar-benar seperti bibit yang sesungguhnya. Waktu pemindahan tanaman tiba Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan datang lagi pada Kyai Gede untuk minta ijin agar kedua putrinya datang membantu menanam padi. Tetapi tidak dikabulkan dan Kyai Gede malah marah dengan dalih bahwa kedua putrinya akan dipinang oleh Raja Blambangan. Padahal keduanya sudah saling mencintai, lalu kedua pemuda itu kembali pulang. Dan diam-diam kedua putri Kyai Gede melarikan diri menyusul kedua pemuda tersebut. Nyai Loro Walang Angin ingin jadi isterinya Jaka Pandelegan, sedangkan Nyai Loro Walang Sangit ingin jadi isterinya Jaka Walang Tinunu. Akhirnya keduanya dapat bertemu kedua pemuda itu di tengah jalan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Kedung Soko.

Setelah Kyai Gede mengetahui kedua putrinya tidak ada, ia pun mengejar kedua putrinya itu dan bertemu di tengah perjalanan. Mereka diberhentikannya dan kedua putrinya dipaksa untuk kembali ke rumah, tetapi ditolaknya. Sedangkan kedua pemuda itu tidak menghiraukannya karena kedua anaknya ikut atas kemauan mereka sendiri. Maka terjadilah suatu pertengkaran yang berakhir dengan kekalahan di pihak Kyai Gede. Sehingga terpaksa pulang kembali tanpa putrinya. Sedangkan mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan ke Kedung Soko.

Menurut “Shohibul Hikayat” tentang pemotongan padi karena luasnya sawah dan baiknya jenis tanaman maka orang dari segala penjuru datang untuk ikut memotong padi tersebut. Juga dicerritakan bahwa bagian muka dipotong bagian belakang yang baru saja dipotong sudah kelihatan ada tanaman padi yang sudah menguning, sehingga tak ada habis-habisnya. Adapun hasil panenan ditumpuk di penangan. Justru penangan tersebut tepat di tempat Candi Pari berdiri sekarang ini, dan betapa banyaknya padi di penangan tersebut.

Sementara waktu kemudian Kerajaan Majapahit mengalami paceklik. Pertanian gagal banyak petani yang sakit. Lumbung padi dalam keraton yang biasanya penuh menjadi kosong, karena luasnya sawah yang kena penyakit dan gagal panen.

Ketika Raja Brawijaya mendengar bahwa di Kedung Soko berdiam seorang yang arif yang memiliki banyak padi. Maka diperintahkan kepada patihnya untuk meminta penyerahan padi dan dibawakan perahu lewat sungai arah tenggara Kedung Soko. Akhirnya Jaka Walang Tinunu bersedia untuk menyerahkan padinya kepada utusan Sang Raja, dan padi-padi tersebut diangkut ke tebing sungai dan selanjutnya dimuatkan pada perahu-perahu itu, walaupun berapa banyak perahu yang disediakan, namun padi yang disediakan ditebing tetap tidak muat sehingga tempat tersebut dinamakan Desa Pamotan. Lalu padi dipersembahkan pada Sang Raja yang diterima dengan sukacita. Lalu Sang Raja menanyakan kepada Sang Patih siapakah pemilik padi itu? maka Sang Patih menjawabnya bahwa yang memiliki padi itu bernama “Jaka Walang Tinunu” anak seorang Janda Ijingan.

Maka teringatlah oleh Sang Raja bahwa baginda pernah berhubungan dengan Nyai Rondo—janda–yang dimaksud, tetapi semua itu disimpan dalam hati dan mentitahkan kepada Sang Patih untuk memanggil Jaka Walang Tinunu beserta isterinya. Kemudian keduanya menghadap Sang Raja. Setelah diamat-amati ternyata benar bahwa Jaka Walang Tinunu adalah putra sang raja.

Selanjutnya Sang araja menutus untuk memanggil Jaka Pandelegan beserta isterinya dengan maksud akan dinaikkan pangkat derajatnya. Dan apabila mereka tidak bersedia supaya dipaksa tanpa menimbulan cidera pada badannya bahkan jangan sampai menyebabkan kerusakan pada pakaiannya.

Sebelum perintah Raja itu disampaikan kepadanya, Jaka Pandelegan sudah merasa akan mendapat panggilan akan tetapi panggilan itu tidak akan dipenuhi. Hal tersebut sudah dipertimbangkan dengan isterinya.

Ketika patih datang menyampaikan panggilan ia menolak, sekalipun dipaksa tetap membangkang yang selanjutnya menyembunyikan diri ditengah-tengah tumpukan padi pada penangan itu. dan sewaktu Sang Patih berusaha untuk menangkap dan mengepung tempat itu, maka Jaka Pandelegan menghilang tanpa bekas. Setelah menghilangnya sang suami, Nyai Loro Walang Angin yang membawa kendi berrpapasan dengan Patih di suatu tempat, suatu akan ditangkap berkatalah ia “Biarlah saya terlebih dahulu mengisi kendi ini di sebelah Barat Daya penangan itu”. dan saat tiba di sebelah Timur sumur, maka hilanglah istri Jaka Pandelegan itu.

Setelah suami isteri itu hilang Sang Patih pulang kembali untuk melaporkan peristiwa itu kepada Sang Prabu. Mendengar kejadian itu Baginda sangat kagum atas kecekatan Jaka Pandelegan dan isterinya itu. yang akhirnya Sang Prabu mengelurkan perrintah mendirikan dua buah candi untuk mengenang peristiwa hilangnya suami isteri itu. Maka didirikanlah dua candi itu. yang satu didirikan dimana Jaka Pandelegan hilang dan diberi nama Candi Pari. Sedangkan yang satunya lagi didirikan di tempat dimana Nyai Loro Walang Angin menghilang dan diberi nama Candi Sumur.

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa pendirian Candi Pari dan Candi Sumur adalah pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya.  Prabu Brawijaya dikenal sebagai raja terakhir di Majapahit versi naskah naskah babad dan serat. Dari naskah naskah tersebut pula dapat diketahui raja meninggal pada tahun 1478 Masehi.

Dari sinilah timbul kejanggalan. Sebab di atas pintu Candi Pari dipahatkan tahun 1293 saka (1371 M). Sedangkan pada tahun tersebut Majapahit dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk .

Berikut silsilah raja-raja Majapahit:

Dari data di atas (wikipedia.com), dapat dengan jelas diketahui, Candi Pari dibangun pada masa Hayam Wuruk bukan pada masa pemerintahan Brawijaya.

“Dimungkinkan ada unsur politis dalam legenda Candi Pari yang dibuat oleh musuh Brawijaya untuk menjatuhkan kewibawaan raja, “ papar Eyang Bete kepada RADAR Sidoarjo.

Di legenda yang banyak beredar di masyarakat, dikatakan bahwa Prabu Brawijaya tidak bertanggungjawab atas akibat perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan. Ni ini sangat menderita. Kisah ini mendramatisasi penderitaan rakyat jelata akibat penguasa yang sewenang-wenang.
Kesimpulannya, Brawijaya bukan raja yang arif dan bijaksana. “Nuansa politis memang sangat terasa dalam legenda ini” kata Eyang Bete, budayawan senior Sidoarjo.
Mengapa ada perbedaan yang sangat nyata antara kisah sejarah dan legenda? Menurut para budayawan yang tergabung dalam FKB Sidoarjo, sejak dulu sampai sekarang yang namanya penguasa selalu menciptakan scenario untuk menopang kekuasaannya. Sebaliknya, kepada lawan politik direkayasa cerita-cerita tertentu untuk memburukkan citra atau reputasinya. (www.sidoarjokab.go.id)

Nuansa politik seperti yang diduga oleh para budayawan di atas timbul karena perbedaan yang terjadi dari bukti tahun di Candi tersebut dan cerita yang beredar di masyarakat. Namun masih perlu dipertanyakan alasan mengapa cerita tentang Candi Pari dipalsukan, padahal dengan jelas terukir tahun pembuatannya di atas pintu candi.

Artikel di atas menyebutkan bahwa Brawijaya bukanlah seorang raja yang mempunyai cacat dalam masa pemerintahannya. Sebuah aib pribadi raja, tentang perselingkuhannya dengan Ni Jinjingan membuat sejarah pemerintahannya tercoreng.

Namun, jika memang Candi Pari dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, seperti yang ditulis di atas pintu candi, dan yang beredar di masyarakat adalah cerita tentang keburukan Prabu Brawijaya, dapat diasumsikan sebaliknya.

Mungkin saja, justru Hayam Wuruklah yang berselingkuh dengan Ni Jinjingan dan menelantarkannya beserta darah dagingnya sendiri, yaitu Jaka Walang Tinunu. Karena pada masa itu, kepopuleran hayam Wuruk beserta patihnya Gajah Mada, hampir bisa dikatakan sebagai figur pemimpin yang sempurna. Apalagi disebut sebut pada masa pemerintahan Hayam Wuruklah Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan.

Sedangkan Brawijaya adalah raja terakhir yang kedudukannya lebih lemah daripada masa pemerintahan Hayam Wuruk di masa pertengahan Majapahit. Sehingga, wajar saja jika legenda lebih berpihak pada Hayam Wuruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s