Candi Pari: Eksistensi Porong di Mata Sejarah (part III)

Sekilas Tentang Candi Sumur:     

 Lokasi Candi Sumur  berjarak +/- 50 meter dari Candi Pari. Berbeda dengan Candi Pari yang memiliki ukuran jauh lebih besar dan boleh dibilang berhasil direnovasi ulang, Candi Sumur tidaklah demikian. Ukuran Candi ini lebih kecil kira-kira hanya setengah dari Candi Pari dan hanya berhasil dipugar separuhnya saja. Tak heran ketika pertama kali melihat candi ini timbul tanda tanya akan bentuknya yang aneh tersebut. Sisi dinding yang tegak hanyalah sebagian saja yang tentunya hal ini rawan terhadap runtuhnya bangunan tersebut apabila dibiarkan begitu saja. Untuk menghindari dari runtuhnya bagian tersebut pada bagian dalam dibangun kerangka dari semen yang berfungsi sebagai penopang dan pengikat susunan badan candi yang masih ada. Kemungkinan besar tidak diketemukannya sisa-sisa batu pembentuk dinding candi, dan tidak adanya informasi yang bisa dijadikan sebagai referensi bentuk asal dari candi tersebut menyebabkan Candi Sumur ini direnovasi seperti apa yang bisa kita lihat sekarang.

Candi Sumur ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan Candi Pari, dan seperti halnya Candi Pari, Candi Sumur juga terbentuk dari susunan batu bata merah bukan dari batu andesit yang umumnya kita jumpai pada candi-candi lain. Pada bangunan candi ini juga tidak ditemukan ukiran atau relief-relief yang menghias dinding atau kaki candi. Bentuk unik hanya terlihat dari susunan anak tangga yang berada di sisi selatan candi. Anak tangga ini cukup “curam” dan tidak memiliki dinding tangga di bagian sisinya, sehingga perlu perhatian ekstra bila pengunjung ingin menaikinya dikarenakan bata penyusun anak tangga atau tempat berpijak kaki itu sendiri tidak tersusun rata dan rapi. Memang, meskipun Candi Sumur tampak jelas telah mengalami renovasi, namun batu-batu penyusun candi nampak belum diatur dengan rapi dan ditambah dengan batu-batu pengganti untuk sisi-sisi yang hilang. Bentuk candi yang berhasil direnovasi juga belum mampu memberikan gambaran secara lebih jelas dan pasti akan lekuk-lekuk badan dan sudut-sudut candi. Kajian ulang terhadap arsitektur bangunan Candi Sumur ini nampaknya perlu dilakukan secara lebih terperinci lagi, sehingga bagian-bagian yang berongga dari dinding candi bisa diisi dengan batu-batu pengganti yang nantinya akan memperjelas bentuk badan candi, seperti apa yang tengah dilakukan terhadapa situs Batujaya – Karawang, Jawa Barat.

Mungkin dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan Candi Pari dan memiliki ukuran yang lebih kecil, di lokasi Candi Sumur tidak terdapat pos penjaga yang biasa dipakai sebagai tempat menyimpan sisa-sisa bangunan candi. Seperti legenda asal mulanya, Candir Sumur berfungsi sebagai candi tambahan atau pelengkap saja untuk Candi Pari.

Fungsi Candi Pari:

          Fungsi Candi Pari pada zamanya, seperti yang dikutip dari wikipedia.com,

Menurut terjemahan laporan J. Knebel dalam “Repporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 19051906 yang dimuat dalam buku “Sedjarah Kabupaten Sidoardjo” yang disusun oleh Panitia Penggali Sejarah Kabupaten Sidoarjo, tahun 1969/1970, Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu.

Terlepas dari perbedaan masa pemerintahan siapa Candi Pari didirikan, antara versi cerita rakyat atau bukti tahun saka di atas pintu candi, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari pembangunan tersebut adalah sebagai bentuk penghormatan pada seseorang yang telah berjasa, meskipun ia bukan seorang keluarga istana.

Fungsi kedua, seperti yang telah dijelaskan oleh Eyang Bete, Candi Pari sebagai lumbung padi untuk upeti bagi kerajaan Majapahit.

Di dalam ROD tahun 1915 disebutkan bahwa di dekat Candi Pari dan desa sekitarnya pernah ditemukan dua arca Siwa Mahadewa, dua arca Agastya, tujuh arca Ganesha, dan tiga arca Budha, yang semuanya telah disimpan di museum nasional Jakarta. Latar belakang keagamaan Candi Pari bersifat Hindu. Hal ini ditunjukkan adanya relief Sankhadi Candi Pari yang merupakan atribut dalam agama Hindu. Dengan ditemukannya arca di dekat Candi Pari, kemungkinan tempat tersebut adalah area suci yang digunakan juga untuk beribadah dan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu oleh masyarakat sekitar.

Sedangkan fungsi Candi Pari saat ini hanyalah sebagai situs peninggalan sejarah Kabupaten Sidoarjo yang kurang mendapat apresiasi serta perhatian dari masyarakat maupun pemerintah.

Keadaan Candi Pari Saat Ini:

 

          Berikut cuplikan catatan seorang reporter Radar Surabaya mengenai keadaan Candi Pari yang ia publikasikan di blognya—hurek.blogspot.com—pada tahun 2007 silam.

Candi Pari di Desa Candipari, Kecamatan Porong, semakin merana. Objek wisata budaya dan sejarah yang sebenarnya bisa dijadikan andalan ekonomi masyarakat sekitar ini terkesan mangkrak, tidak terurus. Tak ada seorang pun pengunjung ke sana. Padahal, saat itu anak-anak sekolah tengah menikmati liburan panjang. “Pengunjungnya, ya, sampeyan sendiri,” kata Maryati, pemilik warung di depan Candi Pari. Maryati, yang juga istri Tasmin, salah satu juru kunci Candi Pari, menambahkan, dalam sebulan terakhir ini praktis tidak ada pengunjung yang ingin menapak tilas perjalanan sejarah di Kabupaten Sidoarjo. Beberapa waktu lalu, kata Maryati, sempat ada rombongan wisata anak-anak sekolah dari Tulangan. “Setelah itu nggak ada lagi. Makanya, jualan saya nggak laku-laku,” tukas wanita ini seraya tersenyum. Kunjungan dari pejabat, turis asing, hingga peneliti pun tak ada.
Maryati memperkirakan, minimnya pengunjung ke kompleks Candi Pari karena objek wisata itu tidak punya sarana hiburan anak-anak seperti kolam pemandian dan fasilitas bermain lainnya. Ini berbeda dengan beberapa tempat hiburan anak-anak di Tulangan atau Tanggulangin yang lebih menghibur.

Apa yang bisa dinikmati di Candi Pari selain tumpukan batu berusia ribuan tahun? Daya tarik untuk hiburan dan rekreasi di mana? Begitu komentar beberapa warga yang sempat berbincang dengan saya di kompleks Candi Pari. Satu-satunya jalan untuk ‘menghidupkan’ Candi Pari adalah dengan menciptakan fasilitas rekreasi dan hiburan.

Dijumpai di rumahnya, Desa Wunut, sekitar satu kilometer dari Candi Pari, seniman senior Sukarno melihat kasus Candi Pari ini sangat kompleks. Persoalan utama, katanya, pengelolaan Candi Pari (dan candi-candi lain di Sidoarjo) berada di tangan Dinas Purbakala. Pemkab Sidoarjo, khususnya Dinas Pariwisata-Budaya, tidak ikut-ikutan dalam mengelola candi peninggalan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Jenggolo itu. “Saya bisa mengerti karena biaya perawatan tidak kecil. Apalagi, kalau harus dikembangkan menjadi objek wisata sejarah budaya di Sidoarjo,” kata Sukarno, yang juga mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo. Andai saja Pemkab Sidoarjo punya uang dan komitmen pariwisata-budayanya tinggi, Karno yakin banyak yang bisa dilakukan untuk menata ulang objek wisata Candi Pari dan Candi Sumur. (Candi Sumur hanya terpaut sekitar 70 meter dari Candi Pari, sama-sama terletak di Desa Candipari.) Dan, itu membutuhkan biaya sangat besar. Kalau mau, lanjut Karno, pemkab membebaskan rumah-rumah di kompleks dua candi itu sehingga ada hamparan yang luas. Nanti ada objek wisata utama (Candi Pari dan Candi Sumur), tempat jual-beli suvenir, stan PKL, areal parkir, perpustakaan, museum dan dokumentasi sejarah, dan fasilitas lainnya. Selama Candi Pari dan Candi Sumur dibiarkan ‘apa adanya’ seperti sekarang, Karno pesimistis kawasan itu bisa menjadi andalan wisata Kabupaten Sidoarjo. Kompleks candi hanya sekadar situs tua yang semakin lama semakin kehilangan pesona.
Apa boleh buat, kompleks Candi Pari tidak memberikan efek berganda di bidang ekonomi kepada warga sekitar dan Kabupaten Sidoarjo. “Itu semua tergantung visi para pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif,” tukas Karno. Dalam bayangan seniman senior ini, kompleks Candi Pari dan Candi Sumur bisa didesain menjadi objek wisata terpadu dengan sentra industri Tanggulangin. Sebab, jarak antara Tanggulangin (khususnya Intako) dan Candi Pari sangat dekat. “Seharusnya setelah belanja di Tanggulangin, mampir ke Candi Pari,” kata Sukarno, yang juga pelukis dan pembina seni tradisi itu.
 

Sekarang, keadaan Candi Pari tidak jauh berbeda dari dua tahun yang lalu.  Dari observasi langsung seorang siswa SMAN 1 Sidoarjo, dan sempat berbincang bincang dengan juru kunci Candi Pari, Bapak Moh. Saroni, menceritakan bahwa keadaan Candi Pari saat ini cukup memperhatikan.

Peninggalan sejarah yang seharusnya mendapat apresiasi dari warga setempat justru semakin terabaikan. Padahal terdapat beberapa faktor yang sebenarnya dapat meningkatkan jumlah pengunjung Candi Pari yang semakin lama semakin jarang. Pertama, Semburan Lumpur Panas Lapindo. Dengan adanya danau lumpur panas yang terkenal oleh masyarakat luas, setidaknya banyak di antara masyarakat yang juga mengenal Candi Pari sebagai situs sejarah Indonesia Kuno, karena berada dalam satu wilayah. Apalagi dampak negatif yang ditimbulkan semburan lumpur panas Lapindo, kemacetan yang terjadi di jalan raya Porong, menyebabkan tidak sedikit pengendara kendaraan bermotor mencari jalan alternatif. Tidak sedikit pula yang melintasi Candi Pari. Namun, rata-rata pelintas hanya menengok dari dalam mobil saja tanpa tertarik untuk sekadar mampir bahkan mencari tahu leboh banyak tentang Candi Pari. Faktor terakhir adalah dibukanya pemandian umum dalam satu desa yang sama, tidak menyebabkan Candi Pari mendapat dampak positif. Justru dengan adanya pusat rekreasi baru lokal—meski terbilang cukup sederhana—masyarakat semakin melupakan keberadaan Candi Pari.

Uniknya, Candi Pari diapreasiasi secara berlebihan oleh orang orang yang masih percaya hal-hal berbau mistis. Masih terdapat orang-orang yang mencari pesugihan di dalam candi tersebut. Karena menurut kepercayaan mereka, selain area candi yang disakralkan, konon Candi Pari dihuni oleh makhluk gaib yang berasal dari Majapahit.

Penutup

 

Kesimpulan:

Candi Pari adalah salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih tersisa. Terletak di desa Candi Pari, Porong Sidoarjo dan hanya berjarak sekitar 2 km arah barat laut dari pusat semburan lumpur panas Lapindo. Keadaan Candi Pari berserta Candi Sumur cukup memprihatinkan. Kurangnya kepedulian masyarakat setempat dan pemerintah daerah, membuat situs tersebut kian terlupakan.

Keberadaan Candi Pari hingga kini membuktikan banyak hal di masa lampau berkaitan dengan sejarah Porong. Pada masa Kerajaan Majapahit, yang beribukota di Mojokerto, Porong adalah sebuah daerah yang cukup penting bagi Majapahit. Ditinjau dari cerita asal mula Candi Pari, dan penelitian langsung pada bangunan candi, dapat dinyatakan Porong adalah daerah pusat penghasil beras dengan kuantitas besar yang mampu mendistribusikannya ke daerah wilayah kekuasaan Majapahit yang lain. Karena selain tanahnya subur, Porong dilalui sungai yang cukup besar dan dekat dengan muara laut, sehingga transportasi air telah berkembang baik pada masa tersebut.

Ditinjau dari arsitektur candi, Porong juga merupakan suatu wilayah yang ramai dengan masyarakat multikultural. Dua komunitas asing yang tinggal disana, dan mempengaruhi gaya dan seni bangunan adalah Champa dan Tiongkok. Champa berperan terhadap gaya arsitektur sedangkan Tiongkok berperan dalam tekhnologi pembuatan bahan material candi. Masyarakat Porong zaman dulu juga telah mempunyai keteraturan dalam bermasyarakat dan bernegara. Terbukti dari legenda Candi Pari, masyarakat yang dengan sukarela dan gotong royong menyisihkan persediaan berasnya untuk membantu daerah yang mengalami paceklik, penghormatan terhadap raja, serta pendirian Candi Pari dan Candi Sumur untuk menghormati orang yang dianggap telah ikut berjasa atas kemakmuran wilayah tersebut, yaitu Jaka Pandelegan beserta istrinya.

Saran:

Tidak selayaknya sebuah situs sejarah diabaikan begitu saja oleh siapa pun juga. Karena situs tersebut adalah bukti dari sejarah masa lalu dan sangat bernilai tidak hanya di bidang Sejarah, namun mencakup aspek sosial budaya, antroplogi masyarakat sekitar hingga rasa nasionalisme.

Candi Pari adalah contoh dari situs sejarah yang harus dilestarikan dan dikenalkan secara luas. Informasi dan data tentang candi tersebut masihlah sedikit daripada candi-candi lainnya. Meskipun didirikan bukan untuk pemujaan terhadap dewa tertentu atau terhadap raja, namun Candi Pari termasuk salah satu bukti dari kejayaan Dinasti Majapahit.

Diharapkan masyarakat sekitar tetap merawat situs tersebut. Peranan pemerintah seperti membangun pusat hiburan di sekitar area Candi Pari sangat menunjang perkembangan Candi Pari sebagai objek wisata. Apalagi dengan adanya rute pariwisata di Sidoarjo, secara tidak langsung berdampak pada perekonomian penduduknya.

�U ��|��

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s