Teori Komunikasi Interpersonal (part I)

a.     Pengertian

Komunikasi Interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan antara dua orang dan bersifat privat dan eksklusif, identik dengan komunikasi face to face. Pada dasarnya yang menyebabkan seseorang atau manusia itu melakukan komunikasi adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kebutuhannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

b.     Contoh Teori Komunikasi Interpersonal

Dalam studi ilmu komunikasi, konteks komunikasi interpersonal memiliki banyak sekali macam teori. Di antaranya: teori dissonansi kognitif, teori pertukaran sosial, teori inokulasi, teori kredibilitas, teori behaviorisme, teori interaksi simbolik, dll. Namun makalah ini akan membahas tiga contoh teori saja, yaitu Expectancy Violation Theory, Interpersonal Deception Theorydan Communication Accomodation Theory.

1.      Expectancy Violations Theory (Teori Penyimpangan Dugaan)

Teori ini dicetuskan oleh Judee Burgoon. Berlatarbelakang tradisi sosiopsikologis, EVT melihat bahwa manusia dalam percakapannya memiliki ekspektasi tertentu mengenai perilaku nonverbal dari lawan bicara. Ekspektasi atau dugaan ini terbentuk berdasarkan norma-norma sosial maupun pengalaman kita sebelumnya dengan orang lain dan situasi dimana perilaku tersebut terjadi. Dugaan ini dapat melibatkan hampir semua perilaku non-verbal, misalnya kontak mata, jarak, dan sudut tubuh. Bentuk komunikasi nonverbal dalam EVT dalam konteks jarak, memiliki batasan seperti di bawah ini (meski tidak mutlak terjadi di setiap perilaku komunikasi) :

Jarak intim: 0-18 inci

Jarak personal : 18 inci-4 kaki

Jarak sosial: 5 kaki-12 kaki

Jarak publik: >12 kaki

Variabel penting dalam proses penilaian orang terhadap perilaku nonverbal orang lain adalah valensi kesenangan (reward valence) atau tingkatan dimana anda merasa bahwa interaksi itu menyenangkan. Sebagai contoh, sebuah percakapan dapat saja menyenangkan karena memberikan sebuah hasil yang positif. Sebaliknya, valensi dapat saja negative karena lebih merugikan daripada manfaatnya.

Dalam buku Teori Komunikasi: perspektif, ragam dan aplikasi EVT disebut NEV (Nonverbal Expectancy Violation Theory). Dinamakan teori pelanggaran harapan nonverbal untuk menjelaskan konsekuensi dari perubahan jarak dan ruang antar pribadi selama interaksi komunikasi antar pribadi. NEV theory adalah salah satu teori pertama tentang komunikais nonverbal yang dikembangkan sarjana komunikasi.

EVT maupun NEV sebenarnya sama, hanya penyebutannya yang berbeda. Esensinya sama sama menekankan pada factor nonverbal dalam komunikasi. Ada tiga konstruksi pokok dari teori ini yakni harapan (expectancies), valensi pelanggaran (violations valence), dan valensi ganjaran komunikator (communicator reward valance) Griffin, 2004:88.

2.      Interpersonal Deception Theory

Dicetuskan oleh David Buller dan Judee Burgoon. Tradisi yang mendasari adalah sosiopsikologis. Bohong merupakan manipulasi dari sebuah informasi.  Ciri-ciri pesan yang mengandung kebohongan: pesan tidak mengandung kepastian, dalam penyampaian pesannya komunikator tidak segera menjawab, pesan yang disampaikan itu tidak relevan dengan topik, dalam berperilaku saat berkomunikasi pengirim berupaya untuk menjaga hubungan dan citra.  Bohong menciptakan perasaan bersalah dan keraguan. Keberhasilan dari bohong tergantung dari tingkat kecurigaan respondennya. Pembohong akan terus berurusan dengan tugas-tugas yang kompleks berkaitan dengan mengatur strategi kebohongannya.

Kebohongan melibatkan manipulasi informasi, perilaku, dan citra yang dilakukan dengan sengaja untuk membuat orang lain memercayai kesimpulan atau keyakinan yang palsu. Dugaan pelaku komunikasi merupakan dasar yang penting untuk menilai perilaku. Jadi, dugaan memainkan sebuah peran yang pasti dalam situasi kebohongan. Ketika dugaan penerima menyimpang, kecurigaan mereka dapat muncul. Demikian juga ketika dugaan pengirim menyimpang, ketakutan kebohongan mereka juga mungkin akan muncul.

Dalam sebuah hubungan dekat, kita memiliki bias atau dugaan tertentu tentang apa yang akan kita lihat. Bias kebenaran (truth bias) membuat kita kurang cenderung melihat kebohongan. Sebaliknya, sebuah bias kebohongan akan menonjolkan kecurigaan kita dan membuat kita berpikir bahwa orang lain sedang berbohong padahal mereka sebenarnya tidak. Kemampuan kita berbohong atau mengetahui kebohongan juga dipengaruhi oleh tuntutan percakapan (conventional demand) atau jumlah tuntutan yang kita alami sementara kita berkomunikasi.

Keberhasilan teori ini tampaknya baru sebatas pengkonseptualisasian fenomena pembohongan dalam proses komunikasi. Karenanya, berdasarkan kriteria kebaikan teori menurut Littlejohn, teori ini hanya baru memenuhi satu dari empat komponen, yaitu komponen konsep. Komponen lainnya, yaitu komponen asumsi filosofis, eksplanasi, dan prinsip, terlihat belum dipenuhi oleh teori ini.

3.      Communication Accomodation Theory

Dikemukakan oleh Howard Giles. Tradisi yang melatarbelakangi adalah sosiopsikologis. Tradisi yang cenderung kuat pada perilaku dan kognitif. Memahami pelaku komunikasi individu dan bagaimana mereka mengolah informasi dipandang sebagai kunci untuk memahami bagaimana individu terhubung dalam percakapan. Teori ini berkaitan dengan penyesuaian interpersonal dalam interaksi. Hal ini didasarkan pada observasi bahwa komunikator sering kelihatan menirukan perilaku satu sama lain.

Proses pertama yang dhubungkan dengan teori akomodasi adalah konvergensi. Jesse Delia, Nikolas Coupland, dan Justin Coupland dalam West dan Lynn Turner (2007:222) mendefinisikan konvergensi sebagai ”strategi dimana individu beradaptasi terhadap perilaku komunikatif satu sama lain”.

Orang akan beradaptasi terhadap kecepatan bicara, jeda, senyuman, tatapan mata, perilaku verbal dan nonverbal lainnya. Ketika orang melakukan konvergensi, mereka bergantung pada persepsi mereka mengenai tuturan atau perilaku orang lainnya. Selain persepsi mengenai komunikasi orang lain, konvergensi juga didasarkan pada ketertarikan. Biasanya, ketika para komunikator saling tertarik, mereka akan melakukan konvergensi dalam percakapan.

Proses kedua yang dihubungkan dengan teori akomodasi adalah divergensi yaitu strategi yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan verbal dan nonverbal di antara para komunikator. Divergensi terjadi ketika tidak terdapat usaha untuk menunjukkan persamaan antara para pembicara. Terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan divergensi, pertama untuk mempertahankan identitas sosial. Contoh, individu mungkin tidak ingin melakukan konvergensi dalam rangka mempertahankan warisan budaya mereka. Contoh, ketika kita sedang bepergian ke Paris, kita tidak mungkin mengharapkan orang Prancis agar melakukan konvergensi terhadap bahasa kita. Alasan kedua mengapa orang lain melakukan divergensi adalah berkaitan dengan kekuasaan dan perbedaan peranan dalam percakapan. Divergensi seringkali terjadi dalam percakapan ketika terdapat perbedaan peranan yang jelas dalam percakapan (dokter-pasien, orangtua-anak, pewawancara-terwawancara, dan seterusnya. Terakhir, divergensi cenderung terjadi karena lawan bicara dalam percakapan dipandang sebagai anggota dari kelompok yang tidak diinginkan, dianggap memiliki sikap-sikap yang tidak menyenangkan, atau menunjukkan penampilan yang jelek.

Proses ketiga yang dapat dihubungkan dengan teori akomodasi adalah Akomodasi Berlebihan : Miskomunikasi dengan tujuan. Jane Zuengler (1991) dan West dan Lynn Turner (2007: 227) mengamati bahwa akomodasi berlebihan adalah ”label yang diberikan kepada pembicara yang dianggap pendengar terlalu berlebihan.” istilah ini diberikan kepada orang yang walaupun bertindak berdasarkan pada niat baik, malah dianggap merendahkan.

One thought on “Teori Komunikasi Interpersonal (part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s